Bank Mega Syariah

Pangsa Masih Kecil, Bank Mega Syariah Yakin Potensi Besar Perbankan Syariah Nasional Belum Tergarap Optimal

Pangsa Masih Kecil, Bank Mega Syariah Yakin Potensi Besar Perbankan Syariah Nasional Belum Tergarap Optimal
Pangsa Masih Kecil, Bank Mega Syariah Yakin Potensi Besar Perbankan Syariah Nasional Belum Tergarap Optimal

JAKARTA - Industri perbankan syariah nasional terus bergerak di tengah dominasi perbankan konvensional. Meski kontribusinya terhadap sistem keuangan nasional masih terbatas, prospek pertumbuhan tetap dinilai menjanjikan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku industri yang melihat adanya peluang jangka panjang. Salah satunya adalah Bank Mega Syariah yang menilai potensi pasar syariah di Indonesia masih sangat terbuka.

Bank Mega Syariah memandang kecilnya pangsa pasar bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang ekspansi. Dengan populasi besar dan mayoritas masyarakat muslim, potensi pengembangan perbankan syariah dinilai belum tergarap optimal.

Hingga kini, perbankan syariah masih menghadapi tantangan struktural. Namun, peluang pertumbuhan tetap terbuka seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan berbasis prinsip syariah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, jumlah aset bank umum syariah dan unit usaha syariah mencapai Rp1.397 triliun hingga Oktober 2025. Angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan total aset bank umum nasional yang mencapai Rp13.219 triliun pada periode yang sama.

Perbandingan tersebut menunjukkan kesenjangan yang cukup besar. Aset perbankan syariah saat ini baru berada di kisaran 10% dari total aset perbankan nasional.

Kondisi ini mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan yang masih tersedia. Di sisi lain, tantangan untuk meningkatkan penetrasi pasar juga semakin nyata.

Tantangan Literasi dan Persepsi Publik

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, menilai salah satu hambatan utama pertumbuhan perbankan syariah adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Pemahaman publik terhadap keunggulan produk syariah dinilai masih belum merata.

Menurut Hanie, banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami perbedaan mendasar antara produk syariah dan konvensional. Kondisi ini membuat minat terhadap produk syariah belum berkembang optimal.

“Potensi perbankan syariah sangat besar. Namun, tantangan utamanya masih pada literasi publik yang belum merata terkait nilai tambah produk syariah,” ujar Hanie.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci utama. Tanpa pemahaman yang baik, potensi besar tersebut sulit untuk dimaksimalkan.

Hanie menjelaskan bahwa nilai tambah produk syariah tidak hanya terletak pada aspek kepatuhan syariah. Prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan juga menjadi keunggulan yang perlu dipahami masyarakat.

Namun, rendahnya literasi membuat keunggulan tersebut belum sepenuhnya tersampaikan. Hal ini berdampak langsung pada pertumbuhan pangsa pasar industri.

Untuk menjawab tantangan ini, Bank Mega Syariah menekankan pentingnya literasi yang masif dan berkelanjutan. Upaya ini dinilai perlu dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.

Literasi yang baik diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih dalam, minat terhadap produk syariah dapat terus meningkat.

Strategi Perluasan Pangsa Pasar Ritel

Dari sisi strategi bisnis, Bank Mega Syariah terus mendorong perluasan pangsa pasar. Fokus utama diarahkan pada segmen ritel yang dinilai memiliki potensi besar.

Segmen ritel dipandang sebagai pintu masuk utama dalam meningkatkan inklusi keuangan syariah. Melalui segmen ini, bank dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Upaya perluasan pasar dilakukan melalui pengembangan produk yang kompetitif. Bank Mega Syariah juga berfokus pada peningkatan kualitas layanan.

Penguatan kanal digital menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Layanan digital dinilai mampu menjawab kebutuhan nasabah akan kecepatan dan kemudahan transaksi.

Saat ini, pangsa pasar Bank Mega Syariah masih berada di bawah 5% dari total industri perbankan syariah. Angka ini menunjukkan masih besarnya ruang untuk bertumbuh.

Hanie menyampaikan bahwa perseroan optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan berkelanjutan hingga akhir 2026. Optimisme ini didukung oleh strategi ekspansi yang terukur.

Pertumbuhan berkelanjutan menjadi target utama perseroan. Bank Mega Syariah ingin memastikan ekspansi dilakukan dengan tetap menjaga kualitas aset.

Fokus B2B2C dan Penguatan Ekosistem

Hanie menjelaskan bahwa Bank Mega Syariah tengah fokus memperkuat segmen ritel melalui strategi business-to-business-to-consumer atau B2B2C. Strategi ini dinilai efektif dalam memperluas jangkauan pasar.

Melalui pendekatan B2B2C, bank menggandeng mitra dalam berbagai ekosistem. Kerja sama ini memungkinkan bank menjangkau konsumen akhir secara lebih efisien.

“Strategi ini kami jalankan dengan memperkuat kemitraan di berbagai ekosistem, seperti sektor pendidikan dan kesehatan, untuk menghadirkan solusi keuangan berbasis syariah,” jelas Hanie.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah bagi nasabah. Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga memperkuat posisi bank di industri.

Sektor pendidikan dan kesehatan dipilih karena memiliki basis pengguna yang luas. Kebutuhan pembiayaan dan transaksi di sektor ini dinilai cukup besar.

Dengan masuk ke ekosistem tersebut, Bank Mega Syariah berharap dapat memperluas basis nasabah. Strategi ini juga mendukung peningkatan volume transaksi.

Beberapa produk unggulan terus didorong untuk mendukung strategi ini. Di antaranya adalah kartu pembiayaan syariah dan tabungan haji.

Produk-produk tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan loyalitas nasabah.

Digitalisasi sebagai Katalis Pertumbuhan

Selain penguatan ekosistem, transformasi digital menjadi fokus utama Bank Mega Syariah. Digitalisasi dinilai sebagai katalis penting bagi pertumbuhan industri.

Aplikasi m-Syariah menjadi salah satu andalan dalam strategi digital perseroan. Layanan ini dirancang untuk memberikan kemudahan dan efisiensi bagi nasabah.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan yang cepat terus meningkat. Digitalisasi menjadi solusi untuk menjawab tuntutan tersebut.

Melalui kanal digital, bank dapat menjangkau nasabah tanpa batas geografis. Hal ini mempercepat ekspansi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Hanie menilai bahwa digitalisasi juga berperan dalam meningkatkan daya saing. Bank syariah dituntut untuk mampu bersaing dengan bank konvensional dari sisi teknologi.

Penguatan layanan digital menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Bank Mega Syariah ingin memastikan transformasi berjalan selaras dengan kebutuhan nasabah.

Dengan kombinasi ekspansi bisnis, penguatan ekosistem, dan digitalisasi layanan, Bank Mega Syariah berharap dapat meningkatkan kontribusinya. Target utama adalah mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah nasional secara berkelanjutan.

Langkah-langkah tersebut diyakini mampu memperkuat posisi Bank Mega Syariah di industri. Di tengah pangsa pasar yang masih kecil, peluang pertumbuhan dinilai masih sangat besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index