Arah Besar Riset Nasional 2026 Difokuskan BRIN untuk Pangan, Bencana, dan Teknologi Masa Depan

Senin, 12 Januari 2026 | 14:47:00 WIB
Arah Besar Riset Nasional 2026 Difokuskan BRIN untuk Pangan, Bencana, dan Teknologi Masa Depan

JAKARTA - Arah pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari peran riset dan inovasi yang terencana. Pada tahun 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional menyiapkan fokus strategis untuk menjawab tantangan jangka pendek hingga panjang.

Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor penting. Penentuan prioritas riset menjadi langkah awal agar kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dapat berjalan efektif.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi periode penting dalam peta jalan riset nasional. Fokus utama diarahkan pada ketahanan pangan, kebencanaan, dan teknologi strategis.

Pernyataan tersebut disampaikan Arif melalui keterangan di Jakarta pada Senin. Ia menekankan bahwa riset harus berdampak langsung bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Utama Riset 2026

Dalam bidang ketahanan pangan, BRIN menetapkan target yang cukup ambisius. Peningkatan produktivitas padi menjadi salah satu agenda utama.

Arif Satria menyampaikan bahwa produktivitas padi ditargetkan mencapai hingga 15 ton per hektare. Target tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan nasional.

Selain padi, ketergantungan impor bawang putih juga menjadi perhatian serius. BRIN menargetkan pengurangan impor bawang putih dalam kurun waktu dua tahun.

Langkah tersebut ditempuh melalui penguatan riset varietas unggul. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dalam negeri secara berkelanjutan.

Pengembangan varietas unggul hortikultura juga masuk dalam agenda riset ketahanan pangan. Varietas ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.

Tidak hanya tanaman, riset protein hewani juga menjadi fokus. BRIN menilai kebutuhan protein nasional harus ditopang oleh inovasi berbasis riset.

“BRIN juga mendorong riset pangan masa depan (future food), seperti daging analog, cultured meat, serta teknologi pengawetan pangan hemat energi yang memungkinkan penyimpanan beras lebih dari dua tahun tanpa menurunkan kualitas,” kata Arif Satria. Pernyataan ini menegaskan arah inovasi pangan ke depan.

Riset pangan masa depan dinilai penting untuk menjawab tantangan global. Perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk menjadi faktor pendorong utama.

Teknologi pengawetan pangan hemat energi juga menjadi perhatian. Inovasi ini memungkinkan efisiensi logistik dan ketahanan stok pangan nasional.

Dengan pendekatan tersebut, BRIN berharap sistem pangan Indonesia menjadi lebih tangguh. Ketahanan pangan dipandang sebagai fondasi stabilitas sosial dan ekonomi.

Penguatan Riset Kebencanaan untuk Respons Cepat dan Efektif

Selain pangan, bidang kebencanaan juga menjadi fokus utama BRIN pada 2026. Indonesia yang rawan bencana membutuhkan dukungan teknologi yang andal.

Arif Satria menyebutkan bahwa BRIN menyiapkan klaster riset khusus kebencanaan. Klaster ini dirancang untuk menghasilkan solusi yang aplikatif.

Salah satu fokus riset adalah pengembangan teknologi pangan darurat. Teknologi ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan korban bencana secara cepat.

Selain itu, alat penyedia air bersih portabel juga dikembangkan. Alat ini dapat digunakan di wilayah terdampak bencana dengan akses terbatas.

“Teknologinya sudah ada, sekarang bagaimana diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas,” ujar Arif. Pernyataan ini menekankan tantangan pada tahap hilirisasi.

Produksi massal menjadi kunci agar teknologi dapat dirasakan masyarakat. Tanpa skala produksi yang memadai, inovasi sulit memberikan dampak luas.

BRIN mendorong sinergi dengan berbagai pihak untuk mendukung pemanfaatan teknologi kebencanaan. Kolaborasi lintas sektor dinilai sangat diperlukan.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan nasional. Riset kebencanaan diarahkan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.

Teknologi Strategis untuk Menjawab Tantangan Jangka Panjang

Di luar fokus jangka pendek, BRIN juga menyiapkan agenda riset teknologi strategis. Riset ini mencakup kecerdasan buatan, energi, dan bioteknologi.

Menurut Arif, teknologi strategis menjadi bagian dari riset jangka menengah dan panjang. Pendekatan ini diperlukan untuk menjaga daya saing bangsa.

Menuju tahun 2030, BRIN akan menekankan isu scaling dan integrasi teknologi. Kepercayaan publik terhadap inovasi juga menjadi perhatian utama.

Prioritas riset menuju 2030 mencakup kecerdasan buatan. Teknologi ini dinilai memiliki dampak luas di berbagai sektor.

Energi dan baterai generasi baru juga menjadi fokus. Pengembangan ini sejalan dengan upaya transisi energi dan dekarbonisasi industri.

Teknologi hijau turut masuk dalam agenda prioritas. BRIN menilai pembangunan berkelanjutan harus didukung inovasi ramah lingkungan.

Sementara itu, arah riset menuju 2050 diproyeksikan semakin futuristik. Fokusnya mencakup sistem sosio-teknis otonom.

Bioteknologi lanjut dan synthetic biology juga menjadi bagian dari agenda. Riset ini membuka peluang besar di bidang kesehatan dan pangan.

Selain itu, ekonomi antariksa turut masuk dalam peta jalan riset. Pengembangan teknologi luar angkasa dipandang sebagai potensi masa depan.

Penyimpanan data berbasis DNA juga menjadi salah satu fokus riset jangka panjang. Teknologi ini menawarkan kapasitas penyimpanan yang sangat besar.

Meski berorientasi pada kemajuan teknologi, Arif Satria menekankan pentingnya dimensi sosial. Kemajuan teknologi tidak boleh meninggalkan aspek kemanusiaan.

Ia mengingatkan adanya risiko kesenjangan budaya atau cultural lag. Kesenjangan ini dapat muncul jika teknologi berkembang lebih cepat dari adaptasi sosial.

“Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan,” tutur Arif Satria. Pernyataan ini menegaskan pentingnya keseimbangan.

BRIN berupaya memastikan inovasi dapat diterima masyarakat luas. Pendekatan sosial menjadi bagian integral dari kebijakan riset.

Dengan fokus riset yang terarah, BRIN berharap mampu memberikan kontribusi nyata. Riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga solusi.

Tahun 2026 diposisikan sebagai titik penting konsolidasi arah riset nasional. Ketahanan pangan, kebencanaan, dan teknologi strategis menjadi fondasi masa depan.

Terkini